Kali ini perjalanan saya tak sendiri untuk ngebolang, Saya di temeni oleh dua orang partner, yaitu Farleven dan Cy Khenta.
Misi Kami saat ini adalah KOMIK go Nasional dengan menghadiri Musyawarah Nasional Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten.
Perjalanan dimulai hari selasa 24 mei,Start keberangkatan dari terminal Kertapati naik Kereta api ekonomi kelas 3. selama kurang lebih sekitar 10 jam perjalanan Menuju terminal Tanjung Karang. Dengan Harga tiket Rp 15.000,- kami duduk di bangku 18A,B,dan C. Selama perjalanan kegiatan diisi dengan ngobrol ringan hingga berat, dari saling ngejek, sampai membahas hal yang serius. Tidur, dan Makan.
Perjalanan ini merupakan perjalan terkere/Paling melarat saya selama melakukan perjalanan. Karena tanpa bantuan dana dari kampus, dan sedikitnya uang tabungan yang kami pakai. Memahami hal itu kami bertekad hemat selama di perjalanan. Salah satunya urusan makan, di Kereta kami hanya membeli dua botol air mineral sedang. dan buah Sawo 4 biji. Untungnya Ibu telah membuatkan Nasi gurih, dan Omlet.
Tips : bawa makanan dari rumah, untuk orang indonesia, bawa nasi. tetapi sebelum dibungkus, biarkan uap dari nasi itu keluar hingga agak dingin. hal ini agar bungkusan nasi tidak banyak uap, dan menyebabkan nasi lebih cepat basi.
Meski, kami sedikit jajan selama perjalanan, tetapi kehadiran pengamen yang terkesan (ngemis dan memaksa) membuat pengeluaran jajan lebih kecil dari pada ongkos jajan.
Tips : Sediakan uang receh/pecahan kecil. karena di kereta akan banyak Pengamen. Anda bisa saja menolak untuk memberikan uang anda kepada si pengamen, tetapi kadang mereka sangat pintar membuat anda mau merogoh kantong.
sekitar pukul 8 malam lebih kereta yang kami naiki tiba di terminal Tanjung Karang Lampung, Setelah beristirahat sejenak di Mushola yang tersedia di ujung stasiun bagian dalam. Akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan travel. Ongkos travel kali ini lebih murah ketimbang beberapa bulan lalu. Dengan Rp 25.000,- kami diantar ke Pelabuhan Bakauheni. Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam lebih.Menggunakan mobil kijang.
.Pukul 2 Pagi kami muali menybarang ke merak dengan menggunkana kapal feri, Seharga Rp 11.500,-/Orang dewasa.
Setibanya di merak dilanjutkan lagi naik bus Bima Sakti. Seharga 10.000/ orang. Sebenarnya ongkos pasaran bus ini hanya Rp 5.000 sampai terminal disamping untirta. Tetapi mungkin karena kami kelihatan seperti orang baru maka diberi harga lebih.
Kami tiba didepan Kampus Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) sekitar pukul 4 dini hari. Tak beberapa lama seorang panitia menjemput kami dan membawa ke ruang PKM (Pusat kegiatan Mahasiswa), disinilah saya menginap sehari. Di PKM sudah ada teman teman dari Bengkulu. dan Makasar. tetapi rasa letih lebih menuntunku untuk tidur meski tanpa selimut.dan hanya beralaskan Hambal/karpet ruangan.
Tersadar dari tidur pukul 10 pagi. beberapa Mahasiswaa dari daerah lain pun ada yang baru datang.
Siang itu suasana sudah rame sekali di Untirta. Dari Anak Komunikasi Untirta pun sedang menggalang aksi pengumpulan dana untuk pendidikan dengan ngamen di jalan dalam Kampus, tak hanya itu mereka pun menyelenggarakan Pameran Fotografi dengan tema "11 Tahun dari Cengkraman Dinasti". Salut untuk mereka yang begitu kritis.
Rasanya pergi kesuatu daerah tanpa menjelajah sebagian isi kota terasa kurang. Jadi siang itu setelah melihat pameran kami pergi ke pasar didekat situ. Kali ini kami tak hanya bertiga, ada Ibu Negara, itu sebutan saya untuk Etrin Vinanda teman dari bengkulu yang telah saya kenal sejak Muswil di pekanbaru. Saya sebut Ibu negara karena dia Pacaran sama ketua PP IMIKI kang Acep Helmi. hahaha
Misi Kami saat ini adalah KOMIK go Nasional dengan menghadiri Musyawarah Nasional Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten.
Perjalanan dimulai hari selasa 24 mei,Start keberangkatan dari terminal Kertapati naik Kereta api ekonomi kelas 3. selama kurang lebih sekitar 10 jam perjalanan Menuju terminal Tanjung Karang. Dengan Harga tiket Rp 15.000,- kami duduk di bangku 18A,B,dan C. Selama perjalanan kegiatan diisi dengan ngobrol ringan hingga berat, dari saling ngejek, sampai membahas hal yang serius. Tidur, dan Makan.
Perjalanan ini merupakan perjalan terkere/Paling melarat saya selama melakukan perjalanan. Karena tanpa bantuan dana dari kampus, dan sedikitnya uang tabungan yang kami pakai. Memahami hal itu kami bertekad hemat selama di perjalanan. Salah satunya urusan makan, di Kereta kami hanya membeli dua botol air mineral sedang. dan buah Sawo 4 biji. Untungnya Ibu telah membuatkan Nasi gurih, dan Omlet.
Tips : bawa makanan dari rumah, untuk orang indonesia, bawa nasi. tetapi sebelum dibungkus, biarkan uap dari nasi itu keluar hingga agak dingin. hal ini agar bungkusan nasi tidak banyak uap, dan menyebabkan nasi lebih cepat basi.
Meski, kami sedikit jajan selama perjalanan, tetapi kehadiran pengamen yang terkesan (ngemis dan memaksa) membuat pengeluaran jajan lebih kecil dari pada ongkos jajan.
Tips : Sediakan uang receh/pecahan kecil. karena di kereta akan banyak Pengamen. Anda bisa saja menolak untuk memberikan uang anda kepada si pengamen, tetapi kadang mereka sangat pintar membuat anda mau merogoh kantong.
sekitar pukul 8 malam lebih kereta yang kami naiki tiba di terminal Tanjung Karang Lampung, Setelah beristirahat sejenak di Mushola yang tersedia di ujung stasiun bagian dalam. Akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan travel. Ongkos travel kali ini lebih murah ketimbang beberapa bulan lalu. Dengan Rp 25.000,- kami diantar ke Pelabuhan Bakauheni. Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam lebih.Menggunakan mobil kijang.
.Pukul 2 Pagi kami muali menybarang ke merak dengan menggunkana kapal feri, Seharga Rp 11.500,-/Orang dewasa.
Setibanya di merak dilanjutkan lagi naik bus Bima Sakti. Seharga 10.000/ orang. Sebenarnya ongkos pasaran bus ini hanya Rp 5.000 sampai terminal disamping untirta. Tetapi mungkin karena kami kelihatan seperti orang baru maka diberi harga lebih.
Kami tiba didepan Kampus Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) sekitar pukul 4 dini hari. Tak beberapa lama seorang panitia menjemput kami dan membawa ke ruang PKM (Pusat kegiatan Mahasiswa), disinilah saya menginap sehari. Di PKM sudah ada teman teman dari Bengkulu. dan Makasar. tetapi rasa letih lebih menuntunku untuk tidur meski tanpa selimut.dan hanya beralaskan Hambal/karpet ruangan.
Tersadar dari tidur pukul 10 pagi. beberapa Mahasiswaa dari daerah lain pun ada yang baru datang.
Siang itu suasana sudah rame sekali di Untirta. Dari Anak Komunikasi Untirta pun sedang menggalang aksi pengumpulan dana untuk pendidikan dengan ngamen di jalan dalam Kampus, tak hanya itu mereka pun menyelenggarakan Pameran Fotografi dengan tema "11 Tahun dari Cengkraman Dinasti". Salut untuk mereka yang begitu kritis.
Selain
mewawancarai Susa (mahasiswi kordinator pameran yang gayanya Rock n roll abis),
kita pun mewawancarai anak-anak dari UKM Belistra(Bengkel Menulis dan Sastra)..
alhasil teman-teman Belistra memberikan kepada kami dua buah buku “Mahasiswa
Penegak Hak Asasi Manusia (antologi Esai Mahasiswa Indonesia)”. Menarik sekali,
buku ini bukan buku yang sembarangan kita beli di toko buku, melainkan buku ini
merupakan kumpulan Esai esai yang ditulis mahasiswa diberbagai Penjuru
Indonesia saat tahun
Rasanya pergi kesuatu daerah tanpa menjelajah sebagian isi kota terasa kurang. Jadi siang itu setelah melihat pameran kami pergi ke pasar didekat situ. Kali ini kami tak hanya bertiga, ada Ibu Negara, itu sebutan saya untuk Etrin Vinanda teman dari bengkulu yang telah saya kenal sejak Muswil di pekanbaru. Saya sebut Ibu negara karena dia Pacaran sama ketua PP IMIKI kang Acep Helmi. hahaha
Ada yang unik
dari Banten ini, terutama yang saya lihat di Serang.Jangan hiraukan Trayek
angkot disini. Karena bisa jadi tujuan angkot tersebut tidak lah sesuai dengan
tulisan di trayeknya. Bahkan seorang Panitia bilang “Angkot disini Demokratis”.
Jika ada 5 orang jurusan nya ke A. Dan dua orang jurusannya ke B. Yang ke B
harus ngalah turun. Meski trayeknya tertera ke B. Jadi naek angkot disini harus
tanya-tanya dulu mau kemana.
Setelah diberi
petunjuk oleh teman teman Panitia Untirta. Kami memulai menjelajah secungkil
kota serang. Kali ini ke Pasar Ramayanan dan Borobudur. Sebenarnya sih
pengennya ke Pasar tradisional. Tapi Ramayanan dan Borobudur merupakan lokasi
yang paling dekat dari Untirta dimana kami menginap. Disini agak lucu, Leven
beli Sendal baru, Khenta beli Kaos kaki. Dan Ibu negara membeli beberapa Spatu
baru. Kalo saya, hmmm beli gelang aja.
Setelah lelah
jalan jalan kami pulang ke Untirta, via Angkot.
Melihat lihat
suasana kota serang. Kelihatan lagi Keunikan kota ini. Bertebarannya Spanduk,
baliho dan banner di kanan kiri jalan, kadang gak beraturan. Sebenarnya sih
mengurangi ke Indahan kota ini. Dan coba deh kira kira objek yang suka muncul
di spanduk, dan baliho di jalan itu apa??
Yups, Gubernur
Banten Ibu Atut. Dimana mana terpampang wajahnya. Bahkan Bus Pemprov Banten pun
ada wajahnya. Bus ini lah yang membawa kami dari Untirta ke Rangkasbitung
nantinya.
Hari ke 2 (26 mei
2011)
Pukul sekitar
Pukul 14:00 Pembukaan Musyawarah Nasional di Gedung B Untirta, acara pembukaan
yang paling disenangi peserta adalah sajian kesenian “Debus”. Yups, Banten
tidak bisa dilepaskan dari budaya Debus, aksi injak injak beling. Mandi air
keras. Memalu Perut. Hingga menggorok leher dengan Parang, ternyata terlihat
bukan sesuatu yang mengerikan. Melainkan eksotis dimata para peserta yang
sebagian besar berasal dari luar Banten. Termasuk saya.
Pukul 16:00, Para
peserta berangkat ke Rangkasbitung dengan 3 bus, satu Bus Untirta, dua bus
pemprov. Sekitar pukul 19:00 tiba di Gedung LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu
Pendidikan) Rangkas bitung. Selama
beberapa hari kedepan kami akan tinggal disini. Saya dengan 5 orang teman
lainnya tinggal di kamar no 112 R.A. Kartini.
Tampaknya para
peserta dan Panitia sudah lelah malam itu. Banyak yang enggan masuk ruang
sidang. Meski akhirnya berhasil dibujuk juga oleh panitia. Jam 9 malam sidang
dimulai. Pimpinan sidang saat itu terlihat sangat lelah. Hujan interupsi justru
membuat peserta sangat lelah pada sidang awal pembahasan Tata tertib.
Jumat, 27 Mei
2011. Ini merupakan pembahasan Tata tertib terpanjang yang pernah saya lihat.
Hingga pukul 20:00 kami masih saja membahas Tatib. Tetapi hari Jumat ini terasa
berbeda dibanding hari jumat yang pernah saya lewati sebelumnya. Dimana kami Sholat
Jumat bersama di Masjid kecil di bagian belakang Gedung LPMP ini. Yang membuat
berbeda karena kami yang berasal dari daerah-daerah berbeda bisa kumpul dan
sholat Jumat bareng di masjid ini.
Pukul 20:00
penyerahan palu sidang kepada pimpinan sidang baru, Leven yang tadinya ogah
jadi pimpinan sidang karena ngerasa bakal jadi pimpinan sidang dua, akhirnya
mau lagi jadi pimpinan sidang, setelah tak ada yang mau jadi pimpinan sidang.
Aksi saling tunjuk pimpinan sidang membuat lebih runyam suasana.
Sabtu, 28 Mei
2011, Pimpinan sidang begitu semangat masuk keruang sidang pagi itu padahal
peserta masih banyak yang tidur. Hahaha tetapi hari itu adalah hari sidang yang
paling melelahkan. Karena Sidang yang berlangsung dari jam 9 ini berakhir
minggu pagi pukul 4. Yang sangat membuat ngantuk. Lelah, dan pusing para
peserta. Lalu kenapa sidang berlangsung lama seperti ini? Yaa, politik kepentingan lah. Lucunya sidang
ini sangat aneh. Saat sidang beberapa peserta yang bosan memilih untuk
foto-foto bersama, ngobrol, Tidur, hingga Jualan Sandal. Hahaha
Hari itu banyak
peserta yang merelakan tidak menyaksikan pertandingan Barcelona Vs MU. Padahal
wacana Nobar (nonton bareng) sudah
buat gila para peserta. Mereka semua rela demi satu kepentingan bersama, Masa
depan IMIKI kedepan. Cieeeeee yups, Pengajuan anggota DPA, dan Pemilihan Ketua
Umum PP IMIKI baru. Kali ini tidak seperti yang saya dengar sebelumnya dimana
beberapa nama calon muncul. Malam itu hanya ada dua calon, Az Rizal dari
Pekanbaru, dan Irwan Idris dari Makasar. Hasilnya setelah pemungutan suara
Irwan Idris menang, dengan 36 Suara untuknya. 1 Abstain dan dan 14 Suara untuk
bang Az Rizal. Selamat untuk Irwan Idris, selamat mengemban tugas, dan tanggung
jawab besar.
Minggu, 29 Mei
2011. Karena persidangan baru berakhir Pukul 04:00an. Maka Peserta lebih sulit
dibangunkan dari hari sebelumnya. “Kakak, bangun kak, Sarapan” kata kata itu
keluar dari mulut panitia yang sabar gedor gedor pintu kamar Peserta. Saya
bahkan gak sempat melepas almamter saat tidur.
Sesuai rencana
pagi itu kami semua mau diajak jalan jalan ke Pantai Anyer, namun karena
sulitnya peserta yang bangun. Maka Baru sekitar pukul 11:00 kami baru berangkat
ke pantai Anyer. Nah jalan jalan merupakan salah satu kegiatan yang dinantikan
peserta pada umumnya, melepas stress dan penat selama beberapa hari sidang yang
melelahkan. Sekitar Pukul 2 sore kami tiba di pantai Anyer. Saya sih gak pengen
berenang sebenarnya, pertama karena saya lebih milih foto foto, kedua, males
ganti baju, ketiga, Gak Bisa berenang. Hehehe.
Tetapi justru
saya berenang, Hal ini terpaksa, karena setelah usai sholat ashar dan kembali
ke pantai gadget dan dompet saya di tanggalkan oleh beberapa orang, dan saya
diceburin ke air asin itu. Yaudah terlanjur basah, berenang aja meski saya masih
pake celana jeans. Hahaha.
Berenang di laut
sudah lama banget tidak saya lakukan. Terakhir saat saya masih kecil dan belum
sekolah. Selebihnya setiap kali ke pantai hanya duduk duduk aja. Dengan bantuan seluncuran saya beranikan diri maen dan berenang renang di anyer.
Hingga ketika saya beranikan diri ke agak kedalam. Untuk mencari ombak yang
besar, justru saya terseret agak jauh dari bibir pantai. Saat itu saya sudah
gak menginjakkan kaki lagi di pasir, melainkan trumbu karang yang agak tajam.
Alias “Saya kelelep” ahahaha. Gak bisa berenang. Saya sempat cemas saat itu.
Untuk saja ombaknya gak jahat. Hingga saya berhasil menenangkan diri untuk
bergerak mendekati bibir pantai. Selamatttttt
Kejadian itu
tidak membuat saya jera. Justru semakin asyik berenang. Hahaha
Satu lagi, hampir
seluruh peserta Munas dan panitia basah. Karena diceburin paksa. Hahaha. Satu
kenangan lagi yang akan saya kangenin saat di Anyer, Ketika satu persatu Teman
teman IMIKI membuat lingkaran Besar dengan bergandeng tangan di Air asin itu.
Dan Menyanyikan “Indonesia Raya”. Wah betapa saya merasa di antara keluarga
besar.
Usai Isya,
setelah membersihkan diri, berganti pakaian, dan Makan diwarung disekitar jalan
Anyer. Kami mulai berangkat ke Penginapan Baru di Serang. Di bus yang saya
naiki, suasana begitu semarak, terutama ketika sekelompok pengamen naik.
Biasanya pengamen hanya akan nyanyi satu lagu saja. Tetapi ini sampai 3 lagu.
Hebohnya karena seisi bus pada nyanyi, dan Joget. Hahahaha.
Sekitar pukul 10
malam kami tiba. Sayangnya Saya lupa apa nama gedung itu. Karena sudah lelah,
rata rata peserta pada tidur, sebagian ngobrol, atau PDKT dengan yang lainnya.
Satu hal lagi
yang menarik, Banyak Cinta Lokasi terjadi saat Munas IMIKI kemaren, Ya, doain
aja yang jadian saat Munas, langgeng.... amin. Yang masih PDKT, semoga
berhasil. Hahaha.
Senin, 30 Mei
2011. Kami berangkat kembali ke Untirta untuk melanjutan sidang, dan penutupan
Munas. Sidang kali ini bahkan lebih panas. Karena beberapa wilayah memiliki
kepentingan masing-masing. Puncaknya ketika wilayah 1 diwakili Oleh Rizki Abadi
mengajukan Pekanbaru sebagai tuan rumah Munas 1,5 tahun kedepan, kemudian
dibalas dengan Wilayah 2 diwakili oleh M.Sabil yang mengajukan Bandung sebagai
tuan rumah munas juga. Awalnya Wilayah 1 memberikan jaminan akan membebaskan
peserta dari uang registrasi yang saat ini saja Rp 200.000/orang. Namun Wilayah
2 pun ikut ikutan menjamin pembebasan Uang registrasi peserta munas bila munas
tahun depan diselenggarakan di Bandung. Pembahasan Tuan rumah munas ini justru
lebih banyak Lobi-lobi,
Munas Chaos
Setelah sidang
beberapa kali di panding, dan skorsing untuk lobi-lobi itu akhirnya keputusan
voting yang sudah diprediksi banyak orang akan menimbulkan perpecahan
terlaksana juga. Dari hasil lobi wilayah 4 dan 5 mendukung wilayah 1. Namun
ketika voting berjalan semua itu terbalik, Wilayah 3, terutama Jogja yang
tadinya mendukung wilayah 2 justru memilih wilayah 1. Wilayah 4 yang tadinya
sepakat memberikan suara dan mendukung wilayah 1, justru memilih wilayah 2. Keputusannya
di tangan Wilayah 5. Ketika itu Ketua wilayah 5, agak gugup, dan gagap
memberikan suara, bahkan kata katanya sangat berbelit belit. Semua Peserta
Munas yang hadir disitu menyaksikannya. Ketua Wilayah 5 justru mengembalikan
jawaban kepada anggota wilayah 5 “Bagaimana teman-teman kita pilih yang mana?”
ucap Pepeng(ketua Wil 5). Saat itu terlihat jelas teman teman wilayah 5 yang
duduk pun berdiri sambil mengacungkan Jari telunjuk mengisyaratkan memilih
wilayah 1. Namun tepuk tangan kemenangan masih ditahan oleh teman teman dari
wilayah 1 menunggu keputusan langsung yang di ucapkan Saudara pepeng, Tetapi
tiba-tiba seorang senior dari arah belakang. Berteriak “Apa-Apaan
ini!!!!”dilanjutkan dengan kalimat dalam bahasa Makasar yang belakangan kata kata
itu berarti “Tunjukkan Keberanianmu...”. Namun tingkah senior itu justru
membuat kacau suasana. Dan lebih memanas. Dugaan senior memberikan tekanan
kepada wilayah benar benar menyeruak ketika insiden teriaknya seorang senior.
Sidang kembali di Skorsing 5 menit. Dan akhirnya ketika Pepeng memberanikan
diri bersuara, Keputusan yang keluar dari mulut ketua Wilayah 5 sangat
mengecewakan wilayah 1 , karena Wilayah 2 yang akhirnya Pepeng Pilih. Spontan
beberapa anggota dari wilayah 1 Mengamuk. Dan membanting kursi. Semua walk out
keluar ruangan. “Wilayah 1 kita Balek” ucap Bang Rizki. Wilaya 1 terutama
akhrinya membawa semua barang barang mereka dan meninggalkan Untirta tanpa
Ketukan Palu Sidang. Beberapa teman-teman dari wilayah lain pun akhirnya
memutuskan untuk segera meninggalkan munas, Karena menilai terlalu di
politisasi. Saya melihat beberapa teman-teman dari wilayah 1 menangis bersama
di depan Gerbang Untirta. Beberapa panitia pun ikut menangis karena kejadian
tersebut. Didepan gerbang Untirta kami berpamitan dengan panitia, dan
mengucapkan “Maaf”.
Jakarta,
merupakan tempat yang akhirnya dituju oleh 18 orang dari wilayah 1. Untuk
menyusun rencana dan sikap kedepan. Sekitar pukul 5 sore kami ke Jakarta dengan
bus. Pukul 8 malam kami tiba di Mess Pemprov Riau di Daerah Jakarta Barat. Di
Jalan beberapa usulan mengenai sikap kedepan, seperti penarikan DPA, dan Sikap
Boykot sidang. Sempat saya dengar.
Pada dasarnya
teman-teman dari wilayah 1 tidak keberatan munas akan di adakan dimana saja.
Namun, sikap dan trik Politik yang dianggap menyingkirkan wilayah 1 dari
percaturan nasional lah yang membuat teman teman wilayah 1 berang. Seperti
ketika sidang di Rangkasbitung usulan dari wilayah 2, untuk memecah wilayah 1
menjadi beberapa wilayah, dengan pertimbangan luasnya Sumatra namun hanya
terdiri dari satu wilayah, sedangkan Jawa terpecah menjadi 3 wilayah. Usulan
pemekaran bukan berasal dari internal wilayah 1 melainkan wilayah lain.
Kemudian kriteria calon Ketua Umum yang terkesan mengeliminir calon dari
wilayah 1.. Keterlibatan Senior yang justru dianggap oleh sebagian peserta
mengacaukan persidangan dan memberikan intervensi kepada wilayah. Dan puncaknya
adalah insiden saat sidang di Untirta.
Dari apa yang
saya lihat ternyata ada benarnya kata Machiaveli, Tidak ada perteman abadi,
yang ada hanya kepentingan sejati (dalam politik). Nasionalisme tak ada gunanya
bila kepentingan politis kelompok tetap diutamakan. Begitu senangnya bersatu.
Namun secepat itu pecah. Sangat disayangkan. Tetapi Chaosnya Munas tak berakhir
seburuk itu. Ketika pukul 11 Malam teman teman dari wilayah 2, 3, 4, dan 5 berbondong bondong datang ke Mess untuk
segera menyelesaikan perkara dengan cara yang damai.
Setelah
berdiskusi, akhirnya sidang dilanjutkan dalam suasa yang berbeda. Palu sidang diganti
dengan Botol bekas. Surat surat keputusan pun ditulis dengan tangan di lembaran
kertas HVS. Wajah para peserta pun tampak lelah, dan ngantuk sekali. Sidang
akhirnya ditutup sekitar pukul 1:40. Saling berjabat tangan dan berpelukan
menandai berakhirnya perselisihan secara damai. Ya, tak ada yang lebih indah
dari Damai.
Meski, beberapa
orang masih tidak puas. Ya, wajar juga. Tembok yang telah di cabuti pakunya,
masih akan tetap meninggalkan lubang lubang.
Tetapi yang
penting, silahturahmi tetep jalan.]
Ngebolang di
Jakarta,
Selasa, 31 mei
2011
Pagi itu semua
masih pada tidur, yang bangun lebih pagi hanya saya, dan Habibi (mahasiswa
Semester 2 UMRI). Tadinya mau bangunin yang lainnya, tetapi setelah dibanguni
masih gak bangun-bangun, saya ajak Habibi jalan jalan aja. Tujuannya Jalan jalan ke Monas. Yaa, beberapa
kali jalan jalan di Jakarta, ternyata monas belum pernah kami singgahi berdua.
Biasanya saya lebih senang naik busway, tetapi kali ini untuk menuju monas,
kami berdua naik kopaja dua kali dari Mess.
Puas berjalan
jalan di Monas, kami berdua pulang. Apalagi beberapa teman-teman nyariin kami
berdua, dan telpon. Ya, besarnya jakarta khawatir kami tersesat kale.. hahaha.
Nah, kembali kepada transportasi andalan. Busway jadi pilihan kami untuk
kembali ke Mess. Meski agak lelah ketika transit di Benhil dan harus melewati
tangga yang jauh ke daerah Polda.
Setibanya di
Mess, kami mandi. Maklum tadi pagi baru bangun Cuma cuci muka dah jalan jalan.
Usai berganti pakaian, Bang Jack mengajak kami ke Senayan. Wow, kesempatan juga
tuh.
Rame rame ke
Senayan, meski rame rame gini, Pamdal (Pengamanan Dalam) MPR DPR, tidak
mencurigai kami akan demonstrasi karena penampilan kami, gak kayak demonstran.
Hahaha
Beberapa diantara
kalian mungkin akan bertanya-tanya untuk apa ke Senayan?
Jawabanya: minta
duit sama bapak kami. Hehehe
Yups, kami
menemui seorang politisi dari PPP dari Riau, untuk meminta bantuan. Karena di
Jakarta ini “Kami sudah Sekarat”. Hehehe, ternyata anggota DPR ini baik juga.
Kami di berikan bantuan satu juta cash tunai.(inspirasi buat glandangan seperti kami)
Setelah itu,
teman-teman yang cewek dari Pekanbaru segera ke Bandara untuk langsung pulang.
Hingga pukul 16:30 kami masih ada di Senayan. Boring nunggu jemputan. Kami
(tinggal berdelapan) memutuskan untuk jalan jalan aja. Kali itu Blok M. Jadi
lokasi belanja. Ya, yang banya duit belanja, yang gak ada duit, gigit jari.
Hahaha
Rata rata mereka
pada beli pakaian, ada yang untuk oleh-oleh, ada juga yang untuk ganti. Bang
Hari lain lagi, di Blok M dia ngebet banget mau segera membeli Kamera DSLR baru.
Hahaha Khenta, yang ngebet punya kacamata bulat kayak di pake Ozzy Osborn. Saya
hmm ada simpenan duit. Saya beli Knuckle brash untuk perlindungan diri. Wkwkwkw
Capek keliling
Blok M. Kami pulang dengan Kelaperan. hahaha
Rabu, 1 Juni 2011
hari nasional nih.. Tapi ini lah hari kepulangan kami ke pangkuan ibu pertiwi.. halaaahh..ke pangkuan mak ee..udah puas lah jalan jalan sama ibu Tiri.
Alhamdulillah kami diberi bantuan dari teman-teman, akhirnya kami bisa punya ongkos untuk pulang, meski harus nyetop Bus di depan terminal alias ilegal. Ya, karena tanpa tiket. harganya agak miring. kami bertiga hanya ditarik ongkos Rp 250,ribu untuk tiga bangku kecil Bus IMI.
Kamis, 2 Juni 2011
Sampai di Palembang dengan tidak kurang sesuatu apapun kecuali gak punya uang. wkwkwkwk
Rabu, 1 Juni 2011
hari nasional nih.. Tapi ini lah hari kepulangan kami ke pangkuan ibu pertiwi.. halaaahh..ke pangkuan mak ee..udah puas lah jalan jalan sama ibu Tiri.
Alhamdulillah kami diberi bantuan dari teman-teman, akhirnya kami bisa punya ongkos untuk pulang, meski harus nyetop Bus di depan terminal alias ilegal. Ya, karena tanpa tiket. harganya agak miring. kami bertiga hanya ditarik ongkos Rp 250,ribu untuk tiga bangku kecil Bus IMI.
Kamis, 2 Juni 2011
Sampai di Palembang dengan tidak kurang sesuatu apapun kecuali gak punya uang. wkwkwkwk






ngebolang yg munas imiki bandung jgn lupa di posting yah kak hahahaha
ReplyDeleteAjii,,aku mahasiswa UIN SUSKA Riau,,bukan UMRI......
ReplyDelete